Selasa, 26 Februari 2008

Kong Samid - Berjuang Hidup di Lahan Orang Lain

Kehidupan Kong Samid cukup berwarna. Lima kali menikah lima kali gagal. Sejak usia muda terbiasa hidup sebagai petani dan pernah pula mencoba menjadi pedagang ikan. Kini, ia bersama istrinya berkebun pisang dan sayuran.

Pagi itu, seperti biasa, Kong Samid memulai aktivitas sebagai seorang petani. Di pundak kirinya terpanggul sebuah cangkul, sedangkan tangan kananya memegang arit. Kedua jenis alat itu setia menemani laki-laki berusia hampir 100 tahun itu dalam menggarap kebun pisang dan tanaman kangkung di lahan milik sebuah perusahaan pengembang di Kampung Setu Bintara, Bekasi Barat, Jawa Barat.

Itulah kesibukan Kong Samid bersama isrinya, Nyak Simih, sehari-hari. Meski tubuhnya renta, tapi ia masih cekatan membersihkan kebunnya. Tanaman liar yang mengganggu tanaman pisang dibabatnya dengan arit. Setelah itu Kong Samid menceburkan diri ke rawa-rawa, lalu memangkas rerumputan yang tumbuh di sekeliling tanaman kangkung dan genjer. Sesekali ia menyeka peluhnya yang bercucuran di sekujur tubuhnya.

Bertani memang bukan pekerjaan asing buat lelaki kurus berkulit hitam ini. Ilmu di bidang pertanian yang ia miliki sekarang merupakan warisan dari orangtuanya, Bengking dan Bannar, yang memang keluarga petani. Sejak 1925, di usia muda, Kong Samid sudah terbiasa memegang cangkul. Pada saat jeda menggembala kerbau, ia belajar berkebun, seperti menanam pisang dan singkong.

Begitu beranjak dewasa, dengan bekal ketrampilan yang dimilikinya itu, Kong Samid memutuskan untuk mulai membina rumah tangga. Untuk modal dalam mengarungi mahligai rumah tangga, Kong Samid membeli sebidang sawah yang tak begitu luas di wilayah Bekasi. Di atas tanah sawah itu ia bertanam padi. Ternyata, kalau hanya mengandal hasil dari bertani, ia tak bisa menghidupi keluarganya.

Kehidupan yang serba susah itu berakibat pada retaknya hubungan suami-istrinya ini, Kong Samid terpaksa harus berpisah dengan istri pertamanya. Setelah bercerai, ia lalu banting stir menjadi pedagang ikan. Ia membawa dagangannya itu menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta -- yang kala itu kondisinya belum semegah dan seramai sekarang – mulai dari Mester hingga Pasar Rumput dan Tanah Tinggi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Kong Samid menjalin hubungan dengan seorang perempuan, yang kemudian menjadi istrinya. Tapi lagi-lagi gagal. Lima kali ia berusaha membina rumah tangga, tapi semuanya kandas di tengah jalan. Kegagalan demi kegagalan itu membuat kehidupan Kong Samid semakin susah. Akibatnya, sawah yang merupakan satu-satunya harta miliknya menjadi milik ke lima mantan istrinya.

.
“Bukan isteri saja yang bikin saya sedih, saya juga sering ketipu. Pernah engkong disuruh garap sawah 1,5 hektar, pas panen hasilnya kagak dapet sedikit juga,” cerita Kong Samid mengenai lika-liku hidupnya. Namun, semua itu ia hadapi dengan tegar dan penuh kesabaran. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Simih, seorang janda beranak tiga. Pertemuan itu mempertautkan hati kedua insan itu di dalam sebuah rumah tangga.

Bersama Simih, ia berusaha untuk membuka lembaran baru. Ia meninggalkan pekerjaan sebagai pedagang ikan keliling, kemudian kembali ke Kampung Setu Bintara. Semula ia berharap bisa memperoleh barang secuil lahan milik orangtuanya yang telah almarhum. Namun, lahan warisan itu telah habis dijual oleh saudara-saundaranya. Bahkan, tanah 400 meter persegi yang menjadi miliknya telah digunakan oleh kelurahan, yang katanya, untuk membangun gedung pemerintah, tanpa sepeser pun ia memperoleh ganti rugi.

“Katanya sih gedong pemerintah, eh sekarang mah malah dibangun gas sama PT, tau dah PT apa. Kadang dongkol sih ya sama sodara, sama mantan bini, sama orang nyang bo-ongin saya, tapi pegimana ya emang udah jalannya begitu kali,” ucap Kong Samid sambil menerawang.

Satu-satunya pilihan yang diambil oleh Kong Samid waktu itu, mengajak istrinya kesuatu tempat yang tak jauh dari tanah yang dulunya pernah ditempati orang tuanya. Di sini ia menyewa sebuah rumah gubuk di pinggir jalan. Meski rumah itu terlihat kumuh dan jelek, naumn istrinya tetap setia mendampingi laki-laki yang telah memiliki 13 anak ini.

Di rumah sewaan itulah Kong Samid mulai menata kembali kehidupannya. Tapi, yang menjadi persoalan, dengan cara apa ia harus menghidupi anak istrinya. Nah, engkong pun mulai melirik tanah kosong yang tak terawat, sekitar 500 meter dari kediamannya. Sejak itu muncul di fikirannya untuk kembali bertani, seperti sedia kala.

Singkat cerita, hanya berbekal cangkul dan arit, Kong Samid mulai membabat dan mengolah lahan yang kemudian diketahui milik sebuah perusahaan pengembang. Di lahan kering itu ia tanami pisang dan singkong, sedangkan bagian lahan yang berwujud rawa-rawa dibuat tambak. Di tambak itu awalnya di tanami padi, tapi karena habis dimakan hama, lalu diganti dengan tanaman kangkung dan genjer.

Usaha yang digelutinya sampai sekarang itu ternyata mampu menghidupi keluarganya, walau untuk ukuran sederhana. Hasil panennya berupa pisang, singkong, dan sayur mayur itu ia jual ke pasar Klender, dan sebagian di jual di warung di depan rumahnya. Inilah buah dari sebuah kegigihan seorang Kong Samid bersama istrinya. Selama masih punya akal dan mau bekerja keras, manusia tak akan mati kelaparan.

Box

Bangkit di Usia Senja

Kalau hanya sedekar untuk makan Kong Kamid dan istrinya kini sudah tercukupi, dan bahkan bisa menabung sedikit demi sedikit. Setelah hasil tabungan terkumpul, ia bisa membeli sebuah rumah dengan tiga kamar. Setelah itu, ia pun mencari akal bagaimana caranya rumah ini, selain untuk tempat berteduh juga bisa menghasilkan uang. Caranya, dua kamar disewakan, dan satu kamar lagi untuk ia dan istrinya.

Dari sewa kamar ini, ia bisa memperoleh tambahan penghasilan Rp100.000 per kamar setiap bulan. “Lumayan untuk nambah-nambah ngepulin dapur,” ungkap Kong Samid.

Kong Samid sadar betul, tak selamanya ia bisa menggarap lahan yang bukan miliknya. Suatu saat, dan itu pasti, lahan itu akan diminta kembali oleh pemiliknya. Dan, pemilik tanah sudah memberi sinyal bahwa tanah tersebut akan diminta kembali untuk dibangun. “Tau dah kapan tanah itu akan dibangun, pengennya sih jangan dibangun dulu, ntar aja kalau kita mati, “ harap Kong Samid.

Kong Samid dan petani penggarap lainnya memang pernah dipanggil oleh pemilik tanah. Mereka diberi pengarahan soal rencana pembangunan di atas lahan yang mereka garap, dan pemilik tanah juga mengucapkan terima kasih tanahnya telah dirawat dengan baik. Sebagai ucapan terima kasih kepada setiap petani diberi santunan berupa uang.

“Engkong dikasih duit 200 ribu, ya syukur alhamdulillah, dapat hasil kebonnya, juga dapet uang dari PT, nah entar kalau mau dibangun katanya sih dapet lagi uang, kagak tau dah berapa engkong mah terima ajah,” kata Kong Samid dengan polosnya.

EVI AGUSTIN
KLIK. www.tanimerdeka.com

Sopiyan - Pelopor “Pasar Kebun” nan Sukses

Berawal dari kekecewaan pada sistem pemasaran hasil pertanian yang tidak menguntungkan petani membuat Sopiyan berfikir mencari solusinya, dan dia berhasil.

Siang itu, matahari sangat bersahabat dan angin pun bertiup perlahan. Di sebuah areal lahan perkebunan di pinggir Jalan Raya Pagedangan, atau sekitar 2 km dari Jalan Raya Serpong, di tepi telaga Gading Serpong, tampak dua orang perempuan setengah baya tengah asyik memetik sayur kangkung. Kebun sayur mayur itu dikenal sebagai Pasar Kebun – sebuah model pasar sayuran yang memberikan kesempatan kepada si pembeli untuk memetik sendidi jenis sayuran yang diingin langsung dari kebun – milik Sopiyan.

Sopiyan, petani kelahiran Sukabumi, 5 September 1957, itu kini bukan hanya sekedar petani yang secara rutin menanam, memetik, dan menjual hasil kebunnya, tapi lebih dari itu, ia tercatat sebagai pelopor pasar kebun. Sebagai pencetus ide pasar kebun, Sopiyan pantas meraih piagam penghargaan dari Depertamen Pertanian, 2006, dan penghargaan Ketahanan Pangan Nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007.

Berkat idenya yang cemerlang dan disertai kerja keras Sopiyan kini telah menjelma menjadi seorang petani yang tergolong maju dan sejahtera, dari semula tak punya apa-apa. Selain berkebun sayuran, ia juga memiliki usaha rumah makan “Bambu Kuning” – yang juga terletak di areal kebunnya – yang menyediakan berbagai jenis masakan Sunda.

“Dulu, sewaktu belum mengembangkan pasar kebun, hidup saya gali lobang tutup lobang,” ujar Sopiyan mengenai masal lalunya. Awalnya, keluarganya tak setuju dengan keinginan Sopiyan membuka usaha di bidang pertanian. Alasan keluarganya. karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tenaga dan modal yang dikeluarkan.

Meski ditentang, Sopiyan tetap yakin bahwa usaha yang dilakukan ini akan mengubah garis hidupnya. Ia rela bergulat dengan tanah dan berlumuran lumpur untuk membuktikan bahwa pilihan hidupnya itu benar. Karena Sopiyan punya prinsip, suatu kemauan yang dilaksanakan dengan kerja keras, penuh kedisiplinan, dan ketekunan pasti ada hasilnya.

Awlanya, usaha tani yang dilakoni Sopiyan ini berjalan tidak begitu mulus. Dia gagal dalam pemasaran hasil panennya. Karena, pada saat panen tiba-tiba harga sayur mayur, seperti kangkung, bayam, terong dan lainnya anjlok. Permaian harga seperti ini bisa dialami kaum petani Indonesia, dan Sopiyan termasuk salah satu korbannya..

Selain soal pemasaran, Sopiyan juga punya pengalaman pahit gagal panen, karena serangan hama. Tapi, itu semua dianggapnya sebagai cobaan, dan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi, begitu mengalami kegagalan, ia bangkit lagi dari awal dengan suatu perencanaan baru.

Sambil menggarap kebunnya, suatu ketika muncul di pikirannya yang mungkin bisa menjadi solusi dalam pemasaran hasil panennya. “Kenapa hasil kebun ini tidak dijual dengan warga sekitar saja. Kan bisa dijual dengan harga pasar,” begitu pertanyaan yang menggoda pikiran ayah tiga anak ini. Artinya, keuntungan akan masuk ke kantongnya.

“Daripada jual di pasar, dengan harga (misalnya) Rp 200 per ikat, kan lebih baik dijual sendiri dengan harga pasar, sehingga keuntungan seratus persen untuk petani, bukan masuk ke kantong tengkulak di pasar,” ujar anggota TNI Yon Kav Tangerang ini.

Berdasarkan hitungan itu, maka pada 2003 Sopiyan mulai menjual hasil usahanya di tempat (di kebun). Dan, itu terjadi setelah 11 tahun lamanya, sejak 1992 hingga 2003, melayani tengkulak di pasar. Walau pun demikian, Sopiyan tidak menghentikan sama sekali menyuplai pasar tradional, karena sebagian hasil usahanya tetap masuk ke pasar tradisional, antara lain pasar Cikokol dan pasar Tanah Tinggi Tanggerang.
.
Dengan sistem penjualan di kebun ini, menurut Sopiyan, keuntungan tidak hanya diperoleh petani, tapi juga konsumen. “Soalnya di pasar kebun harga lebih murah, dan konsumen mendapat bonus lagi. Beli kangkung satu ikat, gratis satu ikat atau beli bangkuang 1 kilogran, gratis satu kilogram,” ujar Sopiyan sedikit berpromosi.
.
Keuntungan lainya, konsumen juga akan merasakan ada hal berbeda antara belanda di pasar kebun dengan di pasar trasidisional atau supermarket. Di pasar kebun, konsumen dapat memetik sayuran yang dikehendaki langsung dari kebun. Buat mereka yang bukan dari kalangan petani, mungkin, ini pengalaman baru yang menyenangkan.

Ternyata, pasar kebun yang dikembangkan Sopiyan maju pesat. Informasi mengenai pasar kebun ini tersebar dari mulut ke mulut, dan juga melalui brosur. Konsumen pun berdatangan, terutama dari daerah Tangerang dan sekitarnya. Tapi, tidak semua yang datang itu punya tujuan belanda, tapi ada juga sekedar pelesiran atau pun lihat-lihat.

Begitu pasar kebunnya menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, Sopiyan pun mulai berfikir untuk membuka rumah makan. “Banyak pengunjung menanyakan warung makan dan minuman,” ungkap Sopiyan. Mula-mula, pada 2004, ia membuka warung minuman. Karena pengunjung kian ramai, lalu dikembangkan menjadi rumah makan “Bambu Kuning.” Nama itu dipilih karena bahan bangunan yang digunakan bambu kuning.

Kini kehidupan Sopiyan bisa diibarat tidak lagi harus ngoyo mencari uang, tapi uang datang menghampirinya. Tak tanggung-tanggung, dari usahanya ini, ayah dari Yanti Mariyanti, Dede Yani dan Rizky ini bisa meraup penghasilan tak kurang dari Rp 100 juta per bulan. Suatu penghasilan yang luar biasa untuk ukuran seorang petani.

Kesuksesan yang diraih Sopiyan ini dapat menjadi bahan pelajaran buat kaum tani Indonesia. Ternyata, “Dengan keuletan, kerja keras, disiplin dan menggunakan manajemen yang benar, petani dapat sukses,” kata Sopiyan. Karena itu, ia juga berharap kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan petani.


Boks

Tentara Besenjata Cangkul

Awalnya, Sopiyan sama sekali tidak punya fikiran akan menjadi seorang petani. Meski lahir dari rahim seorang ibu petani, tapi di matanya dunia pertanian sangat tidak menjanjikan dan disepelekan generasi penerus. Maka. ketika ada pembukaan lamaran di Angkatan Darat, Sopiyan pun ikut tes dan diterima dengan jabatan penemudi tank.

Pada 1979, Sopiyan yang tergabung dalam Yon Kav IX Tangerang ditugaskan ke Timor-Timur, dan di sana saat itu sedang berjangkit wabah malaria ganas. Untuk menghidari serangan nyamuk malaria, Sopiyan harus banyak bergerak dan mengeluarkan keringat. Lantaran tidak menyukai olahraga, ia pun memilih mengayunkan cangkul.

Dengan bersenjata cangkul ia mulai membabat hutan, mengolah tanah dan menanamnya dengan sayur-sayuran. Begitulah kerjanya setiap ada waktu luang. Hasilnya, ternyata bisa memenuhi kebutuhan sayuran untuk kompinya, dan bahkan kemudian bisa menyuplai kebutuhan sayuran untuk satu batalyon.

Dari pekerjaan yang semula hanya iseng itu, Sopiyan mendapatkan uang di luar uang gaji sebagai anggota tentara, dan lumayan untuk tambahan biaya buat keluarganya. “Berkat kegiatan tani itu saya jadi betah tinggal di sana. Kalau teman yang lain minta pulang, saya malahan minta diperpanjang,” cerita Sopiyan kepada Tani Merdeka.

Nah, sekembalinya dari dinas di Timor Timor, kegiatan bertaninya tetap di lanjutkan, dan itu telah menjadi hobi baru. Kebetulan di belakang asramanya di Tangerang terdapat lahan kosong milik pemerintah dan pengembang yang tidak dimanfaatkan. Lalu, ia pun menggarap dan menanam lahan nganggur yang tak terurus itu menjadi kebun sayuran.

Hasil dari memanfaatkan lahan kosong itu ia tabung sedikit demi sedikit, dan lama kelamaan ia bisa membeli sebidang tanah seluas 5.000 meter persegi. Namun, dia masih tetap memanfaat lahan timur miliki pemerintah atau pengembang yang kini luasnya mencapai 25 hektar.

evi a. sutadi
klik. www.tanimerdeka.com

Selasa, 15 Januari 2008

Hmmmmm.....

Ada saja hal yang baru...yang tidak dapat dimengerti..

setiap kali beranjak..segala tertuju pada-Nya dan juga titipan-Nya..

Segala yang ada menjadi dimengerti..meski hanya beberapa bagian

ada yang hilang...tapi tetap saja tak mampu beranjak

jauh...tak lagi tergapai

bak malam dan siang yang tak bersatu

dalam kekelaman..dalam kerisauan..dalam segala..tetap saja sang penentu hidup yang berhak..

sementara aku hanya menjalani saja....

dan membiarkan semua berjalan seperti apa adanya...seperti wak2tu, hari, jam , menit, detik,

Kala..

Jumat, 04 Januari 2008

Taman Wisata Alam (TWA) Hutan Mangrove yang terletak di Pantai Indah Kapuk tepat dibelakang perumahan mewah merupakan salah satu objek wisata lingkungan yang baik untuk pembelajaran anak-anak.

Disini, anak-anak dapat lebih mengetahui mengenai kegunaan hutan Mangrove dan mencintainya..dengan menanam secara langsung pohon yang indah dan sedap dipandang.

So..datang deh..meski banyak nyamuk but adanya TWA minimal dapat menyelamatkan bumi kita dan tentu saja manusianya

Ayo deh mulai menjaga lingkungan dan alam kita sehingga dapat meminimalkan angka bencana alam di Indonesia...

Mau kaan .....?