Kehidupan Kong Samid cukup berwarna. Lima kali menikah lima kali gagal. Sejak usia muda terbiasa hidup sebagai petani dan pernah pula mencoba menjadi pedagang ikan. Kini, ia bersama istrinya berkebun pisang dan sayuran.
Pagi itu, seperti biasa, Kong Samid memulai aktivitas sebagai seorang petani. Di pundak kirinya terpanggul sebuah cangkul, sedangkan tangan kananya memegang arit. Kedua jenis alat itu setia menemani laki-laki berusia hampir 100 tahun itu dalam menggarap kebun pisang dan tanaman kangkung di lahan milik sebuah perusahaan pengembang di Kampung Setu Bintara, Bekasi Barat, Jawa Barat.
Itulah kesibukan Kong Samid bersama isrinya, Nyak Simih, sehari-hari. Meski tubuhnya renta, tapi ia masih cekatan membersihkan kebunnya. Tanaman liar yang mengganggu tanaman pisang dibabatnya dengan arit. Setelah itu Kong Samid menceburkan diri ke rawa-rawa, lalu memangkas rerumputan yang tumbuh di sekeliling tanaman kangkung dan genjer. Sesekali ia menyeka peluhnya yang bercucuran di sekujur tubuhnya.
Bertani memang bukan pekerjaan asing buat lelaki kurus berkulit hitam ini. Ilmu di bidang pertanian yang ia miliki sekarang merupakan warisan dari orangtuanya, Bengking dan Bannar, yang memang keluarga petani. Sejak 1925, di usia muda, Kong Samid sudah terbiasa memegang cangkul. Pada saat jeda menggembala kerbau, ia belajar berkebun, seperti menanam pisang dan singkong.
Begitu beranjak dewasa, dengan bekal ketrampilan yang dimilikinya itu, Kong Samid memutuskan untuk mulai membina rumah tangga. Untuk modal dalam mengarungi mahligai rumah tangga, Kong Samid membeli sebidang sawah yang tak begitu luas di wilayah Bekasi. Di atas tanah sawah itu ia bertanam padi. Ternyata, kalau hanya mengandal hasil dari bertani, ia tak bisa menghidupi keluarganya.
Kehidupan yang serba susah itu berakibat pada retaknya hubungan suami-istrinya ini, Kong Samid terpaksa harus berpisah dengan istri pertamanya. Setelah bercerai, ia lalu banting stir menjadi pedagang ikan. Ia membawa dagangannya itu menyusuri jalan-jalan di kota Jakarta -- yang kala itu kondisinya belum semegah dan seramai sekarang – mulai dari Mester hingga Pasar Rumput dan Tanah Tinggi.
Seiring dengan perjalanan waktu, Kong Samid menjalin hubungan dengan seorang perempuan, yang kemudian menjadi istrinya. Tapi lagi-lagi gagal. Lima kali ia berusaha membina rumah tangga, tapi semuanya kandas di tengah jalan. Kegagalan demi kegagalan itu membuat kehidupan Kong Samid semakin susah. Akibatnya, sawah yang merupakan satu-satunya harta miliknya menjadi milik ke lima mantan istrinya.
.
“Bukan isteri saja yang bikin saya sedih, saya juga sering ketipu. Pernah engkong disuruh garap sawah 1,5 hektar, pas panen hasilnya kagak dapet sedikit juga,” cerita Kong Samid mengenai lika-liku hidupnya. Namun, semua itu ia hadapi dengan tegar dan penuh kesabaran. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Simih, seorang janda beranak tiga. Pertemuan itu mempertautkan hati kedua insan itu di dalam sebuah rumah tangga.
Bersama Simih, ia berusaha untuk membuka lembaran baru. Ia meninggalkan pekerjaan sebagai pedagang ikan keliling, kemudian kembali ke Kampung Setu Bintara. Semula ia berharap bisa memperoleh barang secuil lahan milik orangtuanya yang telah almarhum. Namun, lahan warisan itu telah habis dijual oleh saudara-saundaranya. Bahkan, tanah 400 meter persegi yang menjadi miliknya telah digunakan oleh kelurahan, yang katanya, untuk membangun gedung pemerintah, tanpa sepeser pun ia memperoleh ganti rugi.
“Katanya sih gedong pemerintah, eh sekarang mah malah dibangun gas sama PT, tau dah PT apa. Kadang dongkol sih ya sama sodara, sama mantan bini, sama orang nyang bo-ongin saya, tapi pegimana ya emang udah jalannya begitu kali,” ucap Kong Samid sambil menerawang.
Satu-satunya pilihan yang diambil oleh Kong Samid waktu itu, mengajak istrinya kesuatu tempat yang tak jauh dari tanah yang dulunya pernah ditempati orang tuanya. Di sini ia menyewa sebuah rumah gubuk di pinggir jalan. Meski rumah itu terlihat kumuh dan jelek, naumn istrinya tetap setia mendampingi laki-laki yang telah memiliki 13 anak ini.
Di rumah sewaan itulah Kong Samid mulai menata kembali kehidupannya. Tapi, yang menjadi persoalan, dengan cara apa ia harus menghidupi anak istrinya. Nah, engkong pun mulai melirik tanah kosong yang tak terawat, sekitar 500 meter dari kediamannya. Sejak itu muncul di fikirannya untuk kembali bertani, seperti sedia kala.
Singkat cerita, hanya berbekal cangkul dan arit, Kong Samid mulai membabat dan mengolah lahan yang kemudian diketahui milik sebuah perusahaan pengembang. Di lahan kering itu ia tanami pisang dan singkong, sedangkan bagian lahan yang berwujud rawa-rawa dibuat tambak. Di tambak itu awalnya di tanami padi, tapi karena habis dimakan hama, lalu diganti dengan tanaman kangkung dan genjer.
Usaha yang digelutinya sampai sekarang itu ternyata mampu menghidupi keluarganya, walau untuk ukuran sederhana. Hasil panennya berupa pisang, singkong, dan sayur mayur itu ia jual ke pasar Klender, dan sebagian di jual di warung di depan rumahnya. Inilah buah dari sebuah kegigihan seorang Kong Samid bersama istrinya. Selama masih punya akal dan mau bekerja keras, manusia tak akan mati kelaparan.
Box
Bangkit di Usia Senja
Kalau hanya sedekar untuk makan Kong Kamid dan istrinya kini sudah tercukupi, dan bahkan bisa menabung sedikit demi sedikit. Setelah hasil tabungan terkumpul, ia bisa membeli sebuah rumah dengan tiga kamar. Setelah itu, ia pun mencari akal bagaimana caranya rumah ini, selain untuk tempat berteduh juga bisa menghasilkan uang. Caranya, dua kamar disewakan, dan satu kamar lagi untuk ia dan istrinya.
Dari sewa kamar ini, ia bisa memperoleh tambahan penghasilan Rp100.000 per kamar setiap bulan. “Lumayan untuk nambah-nambah ngepulin dapur,” ungkap Kong Samid.
Kong Samid sadar betul, tak selamanya ia bisa menggarap lahan yang bukan miliknya. Suatu saat, dan itu pasti, lahan itu akan diminta kembali oleh pemiliknya. Dan, pemilik tanah sudah memberi sinyal bahwa tanah tersebut akan diminta kembali untuk dibangun. “Tau dah kapan tanah itu akan dibangun, pengennya sih jangan dibangun dulu, ntar aja kalau kita mati, “ harap Kong Samid.
Kong Samid dan petani penggarap lainnya memang pernah dipanggil oleh pemilik tanah. Mereka diberi pengarahan soal rencana pembangunan di atas lahan yang mereka garap, dan pemilik tanah juga mengucapkan terima kasih tanahnya telah dirawat dengan baik. Sebagai ucapan terima kasih kepada setiap petani diberi santunan berupa uang.
“Engkong dikasih duit 200 ribu, ya syukur alhamdulillah, dapat hasil kebonnya, juga dapet uang dari PT, nah entar kalau mau dibangun katanya sih dapet lagi uang, kagak tau dah berapa engkong mah terima ajah,” kata Kong Samid dengan polosnya.
EVI AGUSTIN
KLIK. www.tanimerdeka.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar