Berawal dari kekecewaan pada sistem pemasaran hasil pertanian yang tidak menguntungkan petani membuat Sopiyan berfikir mencari solusinya, dan dia berhasil.
Siang itu, matahari sangat bersahabat dan angin pun bertiup perlahan. Di sebuah areal lahan perkebunan di pinggir Jalan Raya Pagedangan, atau sekitar 2 km dari Jalan Raya Serpong, di tepi telaga Gading Serpong, tampak dua orang perempuan setengah baya tengah asyik memetik sayur kangkung. Kebun sayur mayur itu dikenal sebagai Pasar Kebun – sebuah model pasar sayuran yang memberikan kesempatan kepada si pembeli untuk memetik sendidi jenis sayuran yang diingin langsung dari kebun – milik Sopiyan.
Sopiyan, petani kelahiran Sukabumi, 5 September 1957, itu kini bukan hanya sekedar petani yang secara rutin menanam, memetik, dan menjual hasil kebunnya, tapi lebih dari itu, ia tercatat sebagai pelopor pasar kebun. Sebagai pencetus ide pasar kebun, Sopiyan pantas meraih piagam penghargaan dari Depertamen Pertanian, 2006, dan penghargaan Ketahanan Pangan Nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2007.
Berkat idenya yang cemerlang dan disertai kerja keras Sopiyan kini telah menjelma menjadi seorang petani yang tergolong maju dan sejahtera, dari semula tak punya apa-apa. Selain berkebun sayuran, ia juga memiliki usaha rumah makan “Bambu Kuning” – yang juga terletak di areal kebunnya – yang menyediakan berbagai jenis masakan Sunda.
“Dulu, sewaktu belum mengembangkan pasar kebun, hidup saya gali lobang tutup lobang,” ujar Sopiyan mengenai masal lalunya. Awalnya, keluarganya tak setuju dengan keinginan Sopiyan membuka usaha di bidang pertanian. Alasan keluarganya. karena hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan tenaga dan modal yang dikeluarkan.
Meski ditentang, Sopiyan tetap yakin bahwa usaha yang dilakukan ini akan mengubah garis hidupnya. Ia rela bergulat dengan tanah dan berlumuran lumpur untuk membuktikan bahwa pilihan hidupnya itu benar. Karena Sopiyan punya prinsip, suatu kemauan yang dilaksanakan dengan kerja keras, penuh kedisiplinan, dan ketekunan pasti ada hasilnya.
Awlanya, usaha tani yang dilakoni Sopiyan ini berjalan tidak begitu mulus. Dia gagal dalam pemasaran hasil panennya. Karena, pada saat panen tiba-tiba harga sayur mayur, seperti kangkung, bayam, terong dan lainnya anjlok. Permaian harga seperti ini bisa dialami kaum petani Indonesia, dan Sopiyan termasuk salah satu korbannya..
Selain soal pemasaran, Sopiyan juga punya pengalaman pahit gagal panen, karena serangan hama. Tapi, itu semua dianggapnya sebagai cobaan, dan kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Jadi, begitu mengalami kegagalan, ia bangkit lagi dari awal dengan suatu perencanaan baru.
Sambil menggarap kebunnya, suatu ketika muncul di pikirannya yang mungkin bisa menjadi solusi dalam pemasaran hasil panennya. “Kenapa hasil kebun ini tidak dijual dengan warga sekitar saja. Kan bisa dijual dengan harga pasar,” begitu pertanyaan yang menggoda pikiran ayah tiga anak ini. Artinya, keuntungan akan masuk ke kantongnya.
“Daripada jual di pasar, dengan harga (misalnya) Rp 200 per ikat, kan lebih baik dijual sendiri dengan harga pasar, sehingga keuntungan seratus persen untuk petani, bukan masuk ke kantong tengkulak di pasar,” ujar anggota TNI Yon Kav Tangerang ini.
Berdasarkan hitungan itu, maka pada 2003 Sopiyan mulai menjual hasil usahanya di tempat (di kebun). Dan, itu terjadi setelah 11 tahun lamanya, sejak 1992 hingga 2003, melayani tengkulak di pasar. Walau pun demikian, Sopiyan tidak menghentikan sama sekali menyuplai pasar tradional, karena sebagian hasil usahanya tetap masuk ke pasar tradisional, antara lain pasar Cikokol dan pasar Tanah Tinggi Tanggerang.
.
Dengan sistem penjualan di kebun ini, menurut Sopiyan, keuntungan tidak hanya diperoleh petani, tapi juga konsumen. “Soalnya di pasar kebun harga lebih murah, dan konsumen mendapat bonus lagi. Beli kangkung satu ikat, gratis satu ikat atau beli bangkuang 1 kilogran, gratis satu kilogram,” ujar Sopiyan sedikit berpromosi.
.
Keuntungan lainya, konsumen juga akan merasakan ada hal berbeda antara belanda di pasar kebun dengan di pasar trasidisional atau supermarket. Di pasar kebun, konsumen dapat memetik sayuran yang dikehendaki langsung dari kebun. Buat mereka yang bukan dari kalangan petani, mungkin, ini pengalaman baru yang menyenangkan.
Ternyata, pasar kebun yang dikembangkan Sopiyan maju pesat. Informasi mengenai pasar kebun ini tersebar dari mulut ke mulut, dan juga melalui brosur. Konsumen pun berdatangan, terutama dari daerah Tangerang dan sekitarnya. Tapi, tidak semua yang datang itu punya tujuan belanda, tapi ada juga sekedar pelesiran atau pun lihat-lihat.
Begitu pasar kebunnya menunjukkan tanda-tanda keberhasilan, Sopiyan pun mulai berfikir untuk membuka rumah makan. “Banyak pengunjung menanyakan warung makan dan minuman,” ungkap Sopiyan. Mula-mula, pada 2004, ia membuka warung minuman. Karena pengunjung kian ramai, lalu dikembangkan menjadi rumah makan “Bambu Kuning.” Nama itu dipilih karena bahan bangunan yang digunakan bambu kuning.
Kini kehidupan Sopiyan bisa diibarat tidak lagi harus ngoyo mencari uang, tapi uang datang menghampirinya. Tak tanggung-tanggung, dari usahanya ini, ayah dari Yanti Mariyanti, Dede Yani dan Rizky ini bisa meraup penghasilan tak kurang dari Rp 100 juta per bulan. Suatu penghasilan yang luar biasa untuk ukuran seorang petani.
Kesuksesan yang diraih Sopiyan ini dapat menjadi bahan pelajaran buat kaum tani Indonesia. Ternyata, “Dengan keuletan, kerja keras, disiplin dan menggunakan manajemen yang benar, petani dapat sukses,” kata Sopiyan. Karena itu, ia juga berharap kepada pemerintah untuk lebih memerhatikan petani.
Boks
Tentara Besenjata Cangkul
Awalnya, Sopiyan sama sekali tidak punya fikiran akan menjadi seorang petani. Meski lahir dari rahim seorang ibu petani, tapi di matanya dunia pertanian sangat tidak menjanjikan dan disepelekan generasi penerus. Maka. ketika ada pembukaan lamaran di Angkatan Darat, Sopiyan pun ikut tes dan diterima dengan jabatan penemudi tank.
Pada 1979, Sopiyan yang tergabung dalam Yon Kav IX Tangerang ditugaskan ke Timor-Timur, dan di sana saat itu sedang berjangkit wabah malaria ganas. Untuk menghidari serangan nyamuk malaria, Sopiyan harus banyak bergerak dan mengeluarkan keringat. Lantaran tidak menyukai olahraga, ia pun memilih mengayunkan cangkul.
Dengan bersenjata cangkul ia mulai membabat hutan, mengolah tanah dan menanamnya dengan sayur-sayuran. Begitulah kerjanya setiap ada waktu luang. Hasilnya, ternyata bisa memenuhi kebutuhan sayuran untuk kompinya, dan bahkan kemudian bisa menyuplai kebutuhan sayuran untuk satu batalyon.
Dari pekerjaan yang semula hanya iseng itu, Sopiyan mendapatkan uang di luar uang gaji sebagai anggota tentara, dan lumayan untuk tambahan biaya buat keluarganya. “Berkat kegiatan tani itu saya jadi betah tinggal di sana. Kalau teman yang lain minta pulang, saya malahan minta diperpanjang,” cerita Sopiyan kepada Tani Merdeka.
Nah, sekembalinya dari dinas di Timor Timor, kegiatan bertaninya tetap di lanjutkan, dan itu telah menjadi hobi baru. Kebetulan di belakang asramanya di Tangerang terdapat lahan kosong milik pemerintah dan pengembang yang tidak dimanfaatkan. Lalu, ia pun menggarap dan menanam lahan nganggur yang tak terurus itu menjadi kebun sayuran.
Hasil dari memanfaatkan lahan kosong itu ia tabung sedikit demi sedikit, dan lama kelamaan ia bisa membeli sebidang tanah seluas 5.000 meter persegi. Namun, dia masih tetap memanfaat lahan timur miliki pemerintah atau pengembang yang kini luasnya mencapai 25 hektar.
evi a. sutadi
klik. www.tanimerdeka.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar